Bola Liar, Mainkan...???

Penulis: Tim Redaksi

Adanya UU ITE rupanya tidak membuat jari jari anonim berhenti membuat narasi yang membantuk opini liar. Satu mati tumbuh seribu, tampaknya pas disematkan kepada mereka yang tidak bertanggungjawab membuat isu seenak jidat.

Ini diperparah dengan minimnya literasi sebagian besar netizen kita yang terbiasa mengunyah informasi tanpa data dan fakta. Asal ada konten bombastis yang negatif, langsung terpengaruh tanpa cek dan ricek.?

Di era teknologi, tidak mudah sebenarnya mencari literasi yang bertebaran di berbagai platform. Tapi, itu tadi, kesadaran menambah perbendaharaan pengetahuan dan wawasan yang rendah, tak ubahnya menjadi bensin yang menyiram setitik api. Istilahnya, asal ada isu miring, terlebih yang berseberangan dengan pribadi, langsung dianggap info valid. Bukti nanti, percaya duluan.

Parah memang.

Dan budaya ini lah yang dipahami, kemudian dimainkan secara psikologis oleh mereka yang entah secara sadar maupun atas pesanan, melempar bola liar hingga menggelinding kemana-mana. Dan netizen yang tak pandai memilih dan memilah informasi tak jelas, akan kebobolan. Informasi itu kadang diteruskan lagi oleh netizen melalui akun medsos pribadi. Begitu seterusnya hingga akhirnya melebar dan merayap ke akun medsos lainnya.

Prinsip: berita bohong asal disampaikan terus menerus akan menjadi fakta, dipegang penuh oleh akun-akun anonim pemain isu.?

Mau sampai kapan kondisi ini dibiarkan???

UU ITE masih menjadi bacaan. Sepanjang tidak ada aduan dan akun akun anonim masih berdiri menantang, kondisi ini tak akan berujung.?

Keseriusan tim siber kepolisian menyapu bersih akun akun anonim pesanan, agaknya sangat diperlukan. Bukan berarti kita tidak percaya kepada yang berwenang, namun ketegasan menertibkan ketertiban umum, sepertinya jangan hanya di dunia nyata saja, melainkan di dunia maya juga.

Kontrol sosial warga memang perlu guna menyemprit jika ada kebijakan pemerintah yang lompat pagar. Sepanjang ada data dan fakta, maka hal itu tak akan bertentangan dengan siapa saja.?

Bahkan, tak hanya disemprit, kalau perlu kita getok saja kepala pemerintahan yang memang tak becus menjalankan tugasnya. Setuju???

Share: