Mesin Motor Cepat Panas? Bisa Jadi Coolant-nya Minta Perhatian
POJOKALTIM.CO.ID, SAMARINDA - Cuaca panas bukan cuma bikin kita gampang gerah. Motor juga bisa ikut âkepanasanâ, apalagi kalau dipakai harian, sering kena macet, atau diajak jalan jauh.
Buat motor Honda yang sudah menggunakan sistem liquid cooled, air radiator atau coolant punya peran penting untuk menjaga suhu mesin tetap ideal. Jadi, jangan menganggap coolant cuma sekadar air biasa yang tugasnya bikin mesin adem.
Coolant punya formulasi khusus untuk membantu menyerap dan melepas panas sekaligus melindungi sistem pendingin dari karat dan korosi.
Kenapa Coolant Penting?
Sederhananya, coolant membantu mesin tetap berada di suhu kerja yang ideal. Kalau kondisinya terjaga, sistem pendingin bisa bekerja optimal sehingga risiko mesin mengalami overheat dapat diminimalkan. Coolant juga membantu melindungi radiator, water pump, selang, dan komponen logam lainnya dari korosi serta endapan. Efeknya tentu bukan cuma soal suhu mesin. Performa dan ketahanan komponen mesin juga ikut terjaga.
Beberapa motor Honda yang sudah menggunakan sistem pendingin cair antara lain CBR Series, PCX 160, ADV160, Vario 160, Stylo 160, Forza, CB150R Streetfire, CRF150L, hingga jajaran BigBike.
Coolant Bisa Berkurang dan Menurun Kualitasnya
Seiring motor dipakai dan jarak tempuh bertambah, volume coolant bisa berkurang. Penyebabnya bisa karena penguapan alami maupun adanya kebocoran pada sistem pendingin.
Bukan cuma volumenya yang perlu diperhatikan. Kualitas coolant juga bisa menurun seiring waktu.
Kalau dibiarkan, sistem pendingin bisa bekerja kurang maksimal. Suhu mesin pun berpotensi meningkat dan risiko overheat menjadi lebih besar.
Kenali Tanda Coolant Mulai Bermasalah
Sebelum muncul masalah yang lebih serius, ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan.
Pertama, indikator suhu di panel instrumen menyala atau menunjukkan temperatur tinggi.
Kedua, volume coolant pada reservoir berada di bawah batas LOW.
Ketiga, mesin terasa lebih panas dari biasanya.
Keempat, muncul bau khas cairan pendingin setelah motor digunakan.
Kelima, terlihat rembesan atau noda basah di sekitar radiator maupun sambungan selang.
Kalau menemukan salah satu tanda tersebut, jangan ditunda untuk melakukan pemeriksaan.
Jangan Asal Tambah Air
Nah, ini yang juga penting. Coolant bukan sekadar air biasa. Gunakan cairan pendingin yang sesuai dengan spesifikasi yang direkomendasikan Honda agar sistem pendingin tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Selain itu, jangan pernah membuka tutup radiator ketika mesin masih panas. Sistem pendingin bekerja dalam kondisi bertekanan sehingga ada risiko cairan panas menyembur dan menyebabkan cedera.
Kapan Harus Dicek?
Pemeriksaan coolant disarankan dilakukan secara rutin, termasuk saat motor akan digunakan untuk perjalanan jauh.
Pada perawatan berkala, pemeriksaan coolant dapat dilakukan setiap 12.000 kilometer, sedangkan penggantian cairan pendingin mengikuti jadwal yang tercantum dalam buku pedoman pemilik, sekitar 36.000 kilometer atau mengikuti jadwal servis berkala.
Jangan lupa juga membersihkan area sirip radiator dari debu dan kotoran. Apalagi saat musim kemarau, debu lebih gampang menumpuk dan bisa mengganggu proses pelepasan panas.
Merawat sistem pendingin sebenarnya nggak ribet. Cukup rutin mengecek volume coolant, menjaga radiator tetap bersih, menggunakan coolant sesuai rekomendasi, dan melakukan servis berkala. Kalau mau lebih aman, percayakan pemeriksaan sistem pendingin ke AHASS. Teknisi dapat mengecek kondisi radiator, selang, water pump, hingga komponen pendukung lainnya.
Jadi, sebelum motor diajak gaspol di tengah cuaca yang lagi panas-panasnya, coba cek coolant-nya dulu. Karena motor yang sehat bukan cuma soal tarikannya enak, tapi juga nggak gampang kepanasan di tengah jalan. (azr)
